Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (3)

PEKERJAANNYA MARAH MELULU, BAPAK – BAPAK

Assalamu’alaikum WW

Anak saya yang nomor 4 (Muhammd Farhat, waktu itu kls 1 SMP) hari ke 3 saya dirawat dirumah sakit dia baru diajak nengok di RS, dan di situ dia nangis tersedu-sedu, saya ingat betul (mungkin saat itu kondisi kesadaranku mulai membaik) saat itu  bagaimana ekspesi anak yang penuh kekhawatiran terhadap bapaknya.   Mungkin hal tersebut yang menjadikan salah satu penyemangat buat saya untuk tetap kuat.

Mengenai saya panya sejarah keturunan hipertensi begini ceriteranya: bapak saya juga kena stroke, kakak saya yang nomor 1 (saya punya 5 saudara laki laki semua) juga pernah kena stroke (mungkin “cuma” penyumbatan pembuluh darah) karena setelah 1 th terkena stroke bisa aktif bekerja lagi. Jadi positif (Insya Alloh) kalau saya dan saudara saudara saya ada potensi sakit stroke, maksud saya menulis seperti ini biar saudara saya atau mungkin teman – teman semuanya , terutama yang punya potensi setroke bisa “mencegah” nya karena seperti di edisi 1 tulisan saya disebutkan stroke dapat dicegah.
Di masyarakat kebanyakan beranggapan bahwa setroke itu ya disebakan oleh darah tinggu, padahal darah rendah dan kolesteror juga penyebab setroke. Stroke bisa berupa penyumbatan (stroke iskemik) dan bisa berupa pendarahan (stroke hemoragik). Stroke iskemik (penyumbatan) bisa dipulihkan dengan metode DSA (Digital substraction Angiogram) dan di Jakarta ada kliniknya dengan penanganan 30 menit saja pasien sudah langsung bisa berjalan seperti biasa (ceritanya begitu, tahun lalu biayanya 48 jt heee…..), tapi kalau stroke hemoragik (pendarahan) seperti yang saya alami (saya mengalami pandarahan di 9 titik) ini belum bisa disembuhkan seperti stroke iskemik dan oleh dokter saya “hanya” dianjurkan untuk terapi saja (mungkin kasarannya dokter sudah nyerah), akhirnya saya berobat ke “pengobatan alternatif doang” plus terapi. Walaupun setroke iskemik yang paling ringan sekalipun (sering juga disebut gejala), yang bersangkutan sudah mengalami kerusakan di jaringan otak. Sering kita dengar si A berobat kesini misalnya bisa cepat sembuh sementara si B tidak sembuh bertahun tahun, ya jelas karena si A kerusakan otak nya hanya 5% misalnya sementara si B sampai 25%.

Kembali ke RS, semakin hari semakin pulih kesadaran saya (mungkin 30% barang kali), setelah 9 hari dirawat di RS saya sudah minta pulang dan memaksa sambil marah saya mintanya (jam 17.00 berhasil pulang). Namanya juga baru 30%sadar, ya kalau ngomong sulit dikendalikan dan pasti yang diajak ngomong tidak ngerti maksud nya. Kalau sudah begini “biasanya” saya terus marah, dan anak istri menyuruh sabar saja, enak saja saya disuruh sabar…… sabar…..sabar……., tidak tahu kok bisa begini jadinya saya jadi pemarah ya, dan saya paham kalao stroke itu identik dengan marah (stroke = marah), pokoknya segala sesuatu kalau tidak sesuai dengan yang saya inginkan walau itu hal yang sepele….  pasti marah, maaf ya anak istri yang telah menjadi sasaran marah saya selama 3 bulan (gampang marah amat besar sekali), tapi sekarang khan tadak marah – marah lagi malah hampir kembali seperti semula (penyabar) heee………

Saya berikan 3 contoh saya marah besar walau sebetulnya  hanya berhubungan dengan hal yang sepele/kecil (ke ketiganya bukan dengan anak istri lho:

1). Ketika saya sedang duduk di teras bersama istri  (saat itu saya mulai bisa jalan) ada sales kecamata datang, saya tahu diri makanya saya diam saja dari pada saya ikut – ikut ngomong malah “ngriwuki”, tapi menurut saya yang notabene “orang yang sedang sakit stroke” menilai bahwa sales itu mulai kurang ajar, dia ngomong sama istri saya kalau seperti bapak ini (maksudnya saya) tidak bisa buk. Langsug saya “nimbrung” pembicaraan mereka, enggak tahu ngomongan saya jelas apa tidak yang pasti tidak jelas heee……. Begini komukasi saya dengan sales:
Saya; mengapa saya tidak bisa diperikasa matanya.
Sales ; karena bapak sakit stroke.
Saya; kok tahu kalo saya sakit stroke dari mana tahunya.
Sales;  biasanya kalao begini ini (dia memperagakan susuatu) sakit stroke pak.
Langsung saya marah banget nget…. nget….nget, Astoghfirllohaladim.

2). Sore hari saya di teras sedirian, sementara anak anak termasuk anak saya yang nomor 4 sedang main bola di jalan depan rumah. Karena tendangan bola mengenai tanaman (tanamannya di luar halaman lho) menyebabkan suara bola tersebut keras, cuma masalah sepele begitu saja saya jadi marah besar sampai anak anak bubar dan anak saya lari pulang sambil menangis, mungkin anak saya malu dengan teman – teman nya kok bapaknya sekarang jadi galak heeee.

3). Pada saat saya melakukan fisio terapi di RS, saya pakai sepatu sandal yang agak tebal sehingga berat kelihatannya, ada ibu – ibu yang  ngomong “keberatan pak karena terlalu tebal sepatunya”. Cuma ngomongan sepele begitu saja bisa manjadikan saya marah besar tidak peduli tempatnya dimana.

Dari tulisan diatas dapat diambil poin yang agak penting sbb:

1). Harus ekstra menjaga kesehatan  terutama yang mempunyai potensi stroke.

2).Penyumbatan pembuluh darah ( Setroke iskemik) dan pembuluh darah pecah/pendarahan (stroke hemoragik), penanganannya berbeda.

3). Pihak keluarga harus ekstra sabar, jangan dibantah kemauan yang sakit, jangan dibantah kalau marah,  sabar…..sabar……sabar

Saya kira ini dulu tulisan saya pada edisi 3, semoga ada manfaatnya bagi pembaca dan bagi diri saya sendiri (jelas manfaatnya utuk latihan berfikir, mengingat, mengetik dengan tangan kiri dsb dsb)

Wasalamu’alaikum WW

Bandar Lampung, 27 Februari  2017

Advertisements

2 thoughts on “Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s