Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (8)

TROTOAR REFLEKSI DAN BAMBU AIR

Di pagi yang sangat cerah seperti ini yang selalu kutunggu – tunggu untuk mendapatkan sinar matahari pagi guna sekedar berjemur di depan rumah. Saat adik saya dari Jakarta datang bersama dengan temannya, dia (temannya) ceritera kalau bapaknya juga kena stroke tapi tidak dibawa ke dokter maupun terapi/urut (saya tidak tanya mengapa demikian) , tapi hanya secara rutin berjemur di pagi hari dan kadang – kadang refleksi memakai lisrik, hasilnya setelah 3 tahun sembuh betul – betul sembuh total.

Sebetulnya adik saya ke Lampung karena tugas kantor, dan temannya itu malahan yang tergesa – gesa ingin segera ketemu saya (jam 23.00 saat itu kerumah saya) dan menceriterakan pengalamannya merawat bapaknya yang menderita stroke. Waktu itu hampir satu tahun tidak terlepas dari kursi roda, tapi dengan telaten keluarganya tiap pagi hari bapaknya diajak berjemur di depan rumah, dan hasilnya nyata sembuh setelah tiga tahun. Kalau saya Insya Alloh 4 bulan sudah banyak kemajuaan dan sudah bisa (jalan, ngomong, tangan bergerak, berpikir),  selanjutnya tinggal pemulihan saja dan sudah bisa melayani diri sendiri (tidak tergantung orang lain). Makanya bahasan saya pada tulisan kali ini adalah berjemur heee…..

Sebelumnya saya ingin kasih tau sebetulnya yang “ngojok – ojoki” saya nulis kisah sakitku ini adalah kedua anakku Delvi dan Ninis, tapi saya menolak karena “lara kok dipamer – pamer ke”. Saya beranggapan kalau punya sakit itu ya orang lain tidak perlu lah dipameri sakit kita, cukup tetangga dekat dan teman kantor saja yang tahu, selain itu saya merasa malu dan minder. Pernah ketika 6 bulan setelah sakit saya coba kekampus (itupun saya paksakan menahan rasa malu dan minder), beberapa mahasiswa ada yang  nangis trenyuh lihat saya, lainnya kaget dan diam  tidak ngomong sama sekali malah ada yang tidak mau ketemu (mungkin tidak tega). Kenyataan tersebut memperkuat alasan saya untuk tidak mengekspos sakit saya.
Tapi anak saya tidak kurang akal, dia membawa tulisan cerita kisah nyata Cristy Damayanti (43 th) orang Jakarta single parent yang berlibur ke AS, dan disana terserang stroke dan difonis oleh dakter akan lumpuh total kerena kerusakan otaknya 20% sedangkan saya kerusakan otaknya tidak sampai 25% (maksutnya lebih 20% atau kurang 20 % tidak tahu saya, bingung saya soalnya 1 % itu juga tidak sampai 25% ), akhinya dia dibawa pulang ke Indonesia dan dia sekarang melakukan aktivitasnya sehari – hari dari atas kursi roda. Dia seorang arsitek yang kariernya lagi bagus – bagus nya. Akirnya saya menyerah pada “bujukan” anak – anak dan mulai menulis kisah ini, siapa tahu ada manfaatnya bagi pembaca utamanya bagi saya dan keluarga, rasa malu dan minder saya singkirkan jauh – jauh asalkan tidak malu – malu kan saja.

Saya punya teman dosen perkebunan namanya Mirodi Syofian, dahulu tahun 2000 pernah buka usaha bunga bersama. Inilah tanaman bambu air (di gambar photo) peninggalan dari pak Mirodi, tanaman bambu air yang semula cuma dua rumpan sekarang menjadi banyak. Sekarang jadi kegaitan rutin saya yang cukup menyenangkan utuk bersih – bersih ranting dan daun kering bambu air tersehut, apalagi kalau ada sinar matahari pagi. Di samping tanaman bambu air saya membuat trotoar refleksi (istilah saya) sepanjang 10 meter, karena ada yang bilang kalau pagi hari sebaiknya berjalan di bebatuan kecil utuk merangsang aktivitas otot dan peredaran darah,  karena pusat pergerakan  semua otot dan peredaran darah itu di telapak kaki makanya orang yang sering tidak pakai alas kaki itu tidak mudah sakit (secara madisnya bagaimana saya tidak tahu).

Di tempat trotoar refleksi itulah setiap pagi (ada atau tidak ada sinar matahari) saya latihan jalan sambil menikmati bambu air nya pak Mirodi heeee, dan sekarang trotoar refleksi tersebut juga sudah dimanfaatkan/dipakai oleh tetangga, Alhamdulillah. Tetapi istri saya dapat informasi kalau trotoar refleksi itu tidak bagus untuk kesehatan karena dengan tertekannya telapak kaki oleh berat badan kita akan berakibat kurang bagus di kesehatan, betulnya bagaimana saya kurang paham barang kali ada pembaca yang paham mohon sarannya.

Pada awalnya saya tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan walaupun pekerjaan itu sangat ringan, misal saya sedang jalan (mengerjakan pekerjaan berjalan) sambil menjawab sapaan/pertanyaan teman, yang seperti itu tidak bisa saya lakukan dan bila terpaksa menjawab ya harus berhenti dahulu jalannya, hal ini pernah terjadi waktu pulang dari Masjid sholat subuh dan hampir saya terjatuh gara – gara itu, jadi kalau jalan ya fokus jalan saja pikiran tidak boleh macam – macam apalagi matanya “jelalatan”. Jadi jangan dikira sombong ya saya, tapi sedikit demi sedikit akan hilang sifat sombong itu heeeeee……..

Ada 3 inti sari yang bisa saya ambil dari tulisan saya:

1). Berjemur pagi hari secara rutin terus menerus, bisa sebagai terapi yang sangat bagus.

2). Tidak perlu malu dan minder dengan penyakit yang ada, dengan diekspos begini siapa tahu ada informasi yang berguna.

3). Pelajaran yang sangat penting, kalau lagi jalan ya fokus ke jalan saja……

Cukup ini dulu saja tulisan edisi 8 ini, terimakasih.

Wasalamualaikum WW.

Bandar Lampung, 9 Maret 2017

Advertisements

2 thoughts on “Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s