Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (10)

MACAM PANAMPILAN IPS

(PERCAYA DIRI YA)

Assalamu’alaikum Wr Wb

Setelah membaca tulisan anak saya (Nisrina ulfah) 

“Kemajuan Kesehatan Berdasar Scan Otak (Perspektif Dokter RS PON)” yang diposting di Jurnal Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (9) tanggal 13 Maret 2017 semakin jelas saya memahami penyakit stroke. Bukan sekedar terjadi penyumbatan (iskemik) atau pendarahan (hemoragik) pembuluh darah saja, tapi untuk pendarahan sendiri yang paling berat yaitu pendarahan yang berada di batang otak yang biasanya menyebabkan kematian, sedangkan yang lainnya tergantung otak bagian mana yang terkena serangan serta persentase otak yang rusak dan ini akan berpengaruh terhadap penampilan Insan Pasca Stroke (IPS) sendiri (wicara, posisi mulut, berjalan, pendengaran, ingatan, penglihatan, dsb). Sering kita jumpai IPS yang tidak bisa wicara dan lama sekali pulihnya bisa wicara lagi, atau hilang ingatan, hilang pedengrannya, motoriknya (fisik tangkas) bermasalah, dsb dll dan bisa saja seseorang  kena serangan lebih dari satu masalah tergantung daerah mana yang diserang. Makanya sering kita dengar bahwa kalau bapak/ibk INI kok cepet sembuh sementara bapak/ibk ITU sudah lama kok belum sembuh – sembuh, hal itu disebabkan karena tingkat serangannya berbeda.  Paling tidak bagi saya memahami ini penting agar  dalam hal mencari pengobatan tidak “grusa grusu”, toh menurut dokter tidak ada lagi rekomendasi obat, paling – paling dikasih vitamin otak dan melakukan fisioteraphy dan senam sesuai kemampuan serta menjaga faktor resiko terulangya stroke kembali.

Kalau saya yang kena serangan adalah “fisik tangkas” (pargerakan fisik/motorik), tapi wicara dan ingatan juga kena serangan pada awalnya (pemulihannya agak lumayan cepat) dan itu bisa dilatih secara fisik dan fisioterapi (saya membuat tulisan ini juga termasuk terapi). Banyak baca/nulis, fisioterapi dan latihan fisik merupakan hal yang sangat penting dilakukan, katanya.

Saya merasa puas dengan pelayanan RS PON Jakarta, diluar dugaan kami berdua bersama istri, bahwa anak saya sendirian ke sana tanpa saya (pasien) ikut tapi bisa mendapatkan informasi lebih dari cukup. Dokter spesialis (dr. Jofizal Jannis/ 66 th ) pelayanannya sangat bagus, padahal semestinya memang harus begitu karena saya sering dengar pelayanan bagus itu sudah bisa manjadi obat tersendiri. Bukan itu saja, anak saya terkesan juga pelayanan mulai satpam dan susternya sangat bagus. Saya kira tidak perlu dilanjutkan membahas masalah dokter yang bagus pelayanannya itu, bisa – bisa nanti saya ngomongin dokter yang pelayanannya kurang bagus/jelek heeeee

Ini saya menceriterakan beberapa IPS secara langsung dan tidak langsung, saya ketemu tanpa melihat dia kena stroke  hemoragik (pendarahan) atau iskemik (penyumbatan), siapa tahu yang saya tulis/ceriterakan ini ada manfaatnya.
Biasanya kalau berobat ke dokter/fisioteraphy/refleksi/urut selalu ketemu pasien yang lumayan sudah sembuh, beberapa diantaranya sbb:

1). Ditempat refleksi yang ini saya disuruh datang besuk pagi – pagi biar dapat urutan nomor pertama. Saya lihat pasiennya yang lain sudah bisa jalan dan ngomongnya sudah jelas sekali, dia memberi tahu saya kalau sejak awal tidak mau menggunakan tongkat atu alat lainnya. Dia “rambatan” di tembok/kursi dan itu dia lakukan cucup lama, dan saya sekarang juga disuruh coba berjalan sambil dipapah (waktu itu saya masih digendong) menuju mobil. Sesama penderita stroke kalau ketemu seperti saudara saja, yang sudah baikan memberi suport yang lemah, dalam hal ini saya yang lemah.

2). Di tempat fisioteraphy, istrinya seorang IPS ngomong kalao suaminya dulu sakit stroke nya parah tidak bisa apa – apa, setelah sekian lama (tidak jelas berapa lamanya) sekarang sudah sehat bahkan sambil nanggu urutan fisioteraphy dia berani jajan bakso heeee. Tapi agak curiga saya, suaminya kok diam tidak pernah ngomong jangan – jangan wicaranya bermasalah, semoga saja tidak.

3). Di tempat fisioteraphy, sudah 8 bulan dia kena stroke (tidak parah wicaranya tidak kena) dia cuma melakukan fisioteraphy saja, jalannya sudah agak cepat. Dia ngasih tahu saya kalau mencari karet kebo (apa itu karet kebo akan saya tulis yang akan datang) untuk minuman herbal di rumah dinas gubernur, saat itu saya juga mulai bisa jalan. Saya cuma ingin nunjukkan sesama IPS saling menolong sebisanya, paling tidak ngasih informasi. Kalao ke 3 contoh di atas jauh lebih baik kondisinya bibanding saya, yang selanjunya saya akan ngambil beberapa contoh yang Insya Allah masih kurang bagus keadaannya dibanding saya:
—————
1).Saya hanya bisa ngucapkan “sabar ya buk” saat ketemu dengan keluarga orang sakit setroke sudah 3 tahun lebih belum bisa apa – apa (jalan, nulis, berbicara, dsb belum bisa), bisanya cuma marah – marah saja (saya juga tidak paham dia marah – marah itu), marah – marah ke saya dan perawat saat pengobatan di balai pengobatan/fisioteraphy. Kenapa dia marah – marah pada saya ?, tarnyata perawatnya tidak boleh nangani/megang saya sebelum dia selesai ditangani. Masih berlaku ya rumus stroke = marah – marah.

2). Saya juga terapi di kolam air panas alami, ketemu dengan bapak – bapak berceritera kalau kakaknya (perempuan) sudah 4 tahun kena serangan stroke belum ada kemajuan, apa – apa masih perlu bantuan dan sangat menyita waktu, tenaga dll, kasihan keluarganya.

3). Tetangganya tukang urut langganan saya (di daerah Gedungtataan), bapaknya kena stroke malah ditinggal  pergi anak istri nya, di rumah sendirian akhirnya mau tidak mau tetagganya yang ngurus dia, “miris” sekali saya mendengar ceritera ini.
Tatangga saya tapi lain kampung, sama seperti itu tapi lebih manyakitkan, suaminya kena stroke malah ditinggal istrinya nikah lagi. Akhirnya suaminya diambil pihak keluarganya dan setiap hari disuruh jalan – jalan di pantai dan mandi air laut (kebatulan rumahnya di tepi laut) sekarang sembuh total.

Sebelum berakhir tulisan ini, pada photo di atas saya pasang dua tangan saya sewaktu kena matahari pagi jam 09.00, kalau photo tersebut di zoom akan terlihat tangan yang sakit (tangan kanan) mengeluarkan keringat 2,5 kali lebih banyak dibanding tangan yang sehat (kangan kiri), mengapa demikian ??

Yang bisa saya ambil untuk pelajaran adalah:

1). Harus agak hati – hati berobat untuk sakit stroke, dokter merekomendasikan  fisioteraphy dan latihan fisik yang banyak.

2). Harus menjaga faktor resiko terulangnya stroke kembali.

3). Tidak hanya yang sakit yang lebih bersabar, tapi pihak keluarga harus lebih lebih lebih sabar lagi.

Saya kira cukup ini dulu tulisan saya, semoga ada manfaat yang bisa diambil, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Bandarlampung, 18 Maret 2017

Advertisements

One thought on “Insan Pasca Stroke (IPS) – M. Rofiq (10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s